Another Source

a

Pages

Thursday, November 19, 2009

Biji pinus yang hilang

Ada dia di pojok ruangan sana.
Duduk dan sedang menangis.
Ah bukan! Tapi meraung.
Gila,tak waras.

2 menit pertama dia meraung menangis bersimbah air mata.
2 menit kedua dia tersenyum,tertawa,bicara sendiri.
Ada apa lagi 2 menit ketiga?

Kamu tampak sedikit cuek.
Berjalan dengan tatapan tegak ke depan.

Aneh.
Kenapa kamu menghampiri dia yang tak waras?!

Oh. Ternyata hanya melihat sebentar.
Lalu jongkok sampai kamu sejajar dengannya.
Menelitinya.
Dan mengalihkan pandangan matanya.

Dia menatapmu.
Bukan sebagai musuh atau apalah.
Dia mulai membuka mulutnya dan berbisik,
"salju abadi akan meleleh di sinar terik musim panas".

Kau mengulurkan tangan.
Dia berani menjabatnya.
Bangkit.
Bangun dari pojokan ruangan.
Dan berjalan dibelakangmu.

Menerawang.

Saat dia sudah mulai tau siapa kamu.
Dia mencoba menjajarkan diri dengan kamu.
Berjalan sejajar disampingmu.

Ahh.
Tapi tidak bisa!
Terlalu cepat,bung!
Dia masih terlalu gila dan kamu masih terlalu jauh.

Nanti.
Ada saatnya.
Saat dia berjalan sejajar denganmu.
Atau bahkan bisa meraih tanganmu.
Ya.
Ada massanya.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...