Another Source

a

Pages

Sunday, November 13, 2011

Scout is my past, and it was beautiful

Kampus saya menuntut setiap mahasiswa baru untuk ikut kegiatan pramuka. Yaaa... jalani sajalah. Namanya juga masih semester satu dimana semua "penderitaan" ada. Mungkin nanti saat saya tingkat dua, hal-hal melelahkan seperti ini akan berkurang (atau malah bertambah?).
Tapi kadang saat latihan pramuka tiap hari Sabtu di setiap minggunya, saya merasa bete, bored, dan tidak bersemangat. Padahal, waktu SMP saya merupakan salah satu anggota Pramuka yang bisa disebut aktif (bahkan sangat aktif). Saya dan regu saya sering ikut lomba PBB. And you know what, saya adalah pinrunya (pemimpin regu). Tau kan, seperti komandan yang memberikan aba-aba kepada para anggotanya. Tapi mungkin suara saya sekarang tidak sekeras dahulu. haha. Oh ya, regu saya juga ikut Lomba Tingkat atau yang biasa disebut LT. Kita ikut LT 3 dan berhasil menjadi wakil Kota Cirebon untuk ikut LT4 se Jawa Barat. That was fantastic! Mungkin saat SMP jiwa Pramuka saya memang sedang menggebu-gebu. Atau tepatnya "meledak" :p. Saya juga merupakan Pratama Putri di SMP saya. Saya sudah bisa mencapai rakit dan selalu rajin mengisi SKU dan tidak pernah absen dari acara kemping :)

Tapi saat SMA, saya tau pramuka di SMA tidak seseru di SMP. Maka saya memutuskan untuk tidak melanjutkan "karier" saya di biang pramuka. Dan menurut saya keputusan itu sangat tepat mengingat ekskul pramuka di SMA saya tidak terlalu "eksis". Yang lebih penting karena pramuka di SMA sudah bukan acara "bermain" dan "berpetualang" seperti di SMP.

Saya kira saya sudah benar-benar terlepas dari pramuka sampai saya tau kempus saya mewajibkan pramuka. God! Pramuka di SMA aja ga seru, apalagi di masa KULIAH! Dan tingkah bosan saya memang sangat beralasan. Saya memang sangan kangen pramuka, tapi tidak seperti ini seharusnya yang diterapkan ada "mahasiswa". Bukan sombong karena tittle itu, tapi saya pikir kami semua itu sudah menginjak tingkat DIATAS SMA. Jadi seharusnya mereka memperlakukan kami juga seperti mahasiswa, bukan seperti anak SD.

Sepertinya cukup untuk gambaran tentang pramuka yang sekarang saya hadapi. Saya cuma mau bernostalgia dengan kenangan-kenangan pramuka saya di masa lalu. Karena memang saya sangat kangen hal itu!
Ada beberapa foto dibawah yag benar-benar mengingatkan saya pada setiap detail peristiwa saat itu. Tapi ini hanya sebagian kecil (sangat kecil) karena foto-foto yang lainnya ada di CD dan CDnya ada di Cirebon.
Oke. Enjoy.

di jalan menuju kirpay saat LT4
waktu mau masuk buper (LT4) ayo tebak mana saya? :p
di pos p3k dan senam pramuka (LT 4)
i love alamanda :)
bawa piala PBB tongkat
dulu saya ahli semaphore loh :p

foto di depan gedung negara sesudah ikut upacara hari pahlawan


Wednesday, November 9, 2011

Adil ?

Kata "adil" itu simple banget. Cuma terdiri dari empat buah huruf. Tapi masalahnya, terdapat banyak masalah kompleks dalam hal "adil".
Kalo kita denger kata "adil", apa sih yang ada dipikiran kalian? hukum? pejara? pemimpin? polisi? atau apa?
Mungkin memang semua yang ada dipikiran kalian itu bener. Tapi kalo yang ada dipikiran saya wantu saya denger kata "adil" itu, Allah.

Sebenernya postingan ini merupakan refleksi dari kekesalan saya terhadap apa yang saya dapat di uts semester ini. Saya ngerasa adanya kekurang adilan dalam hal nilai karena beberapa oknum yang berbuat curang.
Oke, jadi intinya saat uts ada beberapa oknum yang berprinsip "posisi menentukan prestasi". Sedangkan saya jelas-jelas menentang hal itu. Walaupun saya ga munafik saya juga pernah kaya gitu jaman-jaman saya masih labil. Oknum-oknum tersebut sengaja dan terang-terangan bilang "saya mau duduk deket anu ah biar bisa nyontek". Ko bisa ya nyontek bangga? Harusnya dia malu dong! Bahkan dia sengaja ninggalin temennya buat duduk di deket si anu. Akhirnya saat ulangan, oknum tersebut dengan terang-terangan melakukan aksi penyontekannya. And guess what! Saat hasil uts dibagikan, lihat! Lihat dengan jelas! Justru nilai dia lebih tinggi dibanding kami (orang-orang yang bertindak jujur). Saya tau kemampuan dia gimana (maaf, bukan menjatuhkan). Saya tau keseharian dia gimana. Saya tau dia. Tapi lihat nilai dia. Lebih besar dari nilai saya dan teman-teman saya yang menjunjung tinggi kejujuran. Saya boleh kesal, kan? Susah-susah saya belajar, tapi dihancurkan oleh oknum yang seperti itu. Tapi saya tau. Nilai bukan segalanya. Nilai itu semu. Yang terpenting itu sejauh mana kita bisa memahami hal yang baru kita tau, sejauh mana kita bisa mengaplikasikan ilmu yang kita dapat, dan sejauh mana kita bisa mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut.

Buat yang belum ngerti dimana letak ketidakadilannya. Jadi gini, gak adil kan kalau kita udah belajar bener-bener tapi hasilnya percuma karena temen kita yang ga belajar sekeras kita bahkan dengan santainya dia bisa dapet nilai diatas kita karena dia nyontek?

Hal tadi itu contoh kecil ketidakadilan di negri ini. Coba deh pikir. Hal kecil aja bisa jadi ketidakadilan. Kompleks banget kan "adil" itu?
Bahkan kemaren-kemaren saya pun ngerasa nasib yang gak adil sama saya. Tapi cukup! Saya udah belajar ikhlas. Dan sepertinya memang ikhlas itu jadi penangkal buat rasa ketidakadilan. Ikhlas juga jadi kunci kita buat membiarkan segala sesuatunya berjalan mengalir seperti air.

Oh ya, tau gak kenapa yang ada di pikiran saya itu "Allah" kalo ngedenger kata adil? Soalnya Allah itu satu-satunya yang paling adil. Dosen, orang tua, temen, kakak kelas, keluarga, supir angkot, tukang jualan bubur, mamang ojek, bahkan semua orang boleh ga adil. Tapi kita harus yakin kalo Allah itu pasti adil :)