Another Source

a

Pages

Wednesday, April 7, 2010

UNTITLED

lagi iseng-iseng buka laptop,nemuin cerpen yg dulu saya tulis.
tersimpan rapih di folder rahasia wkwkwk
tapi masih belum ada judul dan masih bersambung.
hihi :p

***

Hujan yang lumayan deras turun. Aku berjalan memegang erat payung hitam. Tak tau mau kemana. Hanya mengikuti arah hati. Beberapa saat. Aku berhenti disebuah jembatan. Jembatan yang tak ku kenal pasti. Samar. Hujan masih menemani. Sendiri. Aku disana hanya sendiri. Entah kemana khalayak ramai. Mungkin takut terkena derasnya hujan kala itu. Aku berdiri di jembatan itu. Menghadap kearah sungai yang arusnya menjadi deras karena hujan.
Tak tau mengapa tiba- tiba air mata menetes dari mata sayu ini. Aneh. Mungkin mata ini sudah tak tahan dengan semua masalah dihidupku. Semakin deras. Bukan hanya hujan yang semakin deras. Tapi air mataku juga. Sendu ini, tak bisa kugambarkan. Dilema. Masalah hati, keluarga, sekolah, dan semua menjadi satu. Mendobrak egoku untuk tetap menjadi perempuan yang kuat dan dingin.
Tiba- tiba saja. Lelaki paruh baya, yang sepertinya seumuran denganku berjalan kearahku. Hanya ada kita berdua ditempat itu. Ia mendekatiku. Sempat tak perduli dengannyauntuk beberapa detik. Sampai akhirnya ia berhenti dan berdiri disampingku. Sengaja aku lap air mata yang ada dipipiku. Lagi- lagi egoku datang. Tidak mau dilihat lemah dihadapan orang, apalagi lelaki.
Lelaki yang seumuran denganku. Memakai sweater abu- abu. Kacamata berbingkai abu- abu. Celana jeans. Sendal standar untuk anak muda. Jam tangan di tangan kiri. Dan payung abu- abu ditangan kanan. Bisa kusimpulkan bahwa lelaki ini menyukai warna abu- abu. Wajah manis. Kulit tidak hitam juga tidak putih. Hidung lumayan mancung. Rambut standar. Bibir merah. Merah yang agak tak wajar untuk seorang anak laki- laki. Bukan terlihat seperti memakai lipstick. Tapi terlihat seperti bibir bayi.
Aku menoleh. Menelaah dia. Melihatnya dengan seksama. Tetapi dia diam saja. Pandangannya lurus. Mulutnyapun seakan terkunci. Hanya diam. Kita berdua disana diam. Dan saat aku mulai terjerembab untuk memperhatikannya. Ia menoleh kearahku dan memberi senyum simpul untukku. Lesung pipinya indah. Zzzzz. Tiba- tiba saja buram. Seperti ada kabut yang datang untuk menggangguku. Arrrgghhhh……
Kriing…kring…kriing… suara jam bekerku. Tepat pada jam 05.00. Ya. Ternyata mimpi. Mimpi yang aneh. Wajah lelaki itu masih terbayang. Juga senyum simpul dengan lesung pipi yang menutup pertemuan kami. Tak tau apa maksud dari mimpi itu.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...