Another Source

a

Pages

Thursday, April 8, 2010

UNTITLED (2)

Plajaran selesai. Jam pulang. Seperti biasa. Aku tidak pernah absen mengunjungi lorong sepi di ujung belakang kampus dan perpustakaan. Tempat favoriteku. Dan seperti biasa juga. Aku berjalan sendiri. Mungkin bisa dibilang aku tidak punya teman. Hmmm. Bukan tidak punya. Tapi aku lebih senang sendirian. Mungkin karena aku selalu tau apa yang mereka lakukan, mereka mau, mereka maksud, dan sebagainya. Karena aku, walaupun aku sendiri, aku mengamati mereka dari sepi. Menelaah sifat satu per satu. Mencari tau tentang apapun. Walau hanya dari kejauhan dan sepi.
Bisa dibilang aku cuek. Cuek karena aku sudah tahu semuanya. Semua yang mereka pikirkan. Kalau ada yang bilang aku cuek, justru 180 derajat dari itu. Aku sangat- sangat perhatian. Sampai- sampai menyelidiki semua orang yang kenal denganku. Ya. Aku keranjingan dunia intelligent. Dunia yang membuat aku seperti sekarang. Selalu mengetahui apa yang orang lain kira aku tidak tahu. Dan ketika mereka bertanya “Koq tau sih???”. Dengan dinginnya akan ku jawab “aku kan detective” disertai senyum sinis. Hahaha. I love my world!
Kembali pada perpustakaan. Aku membuka pintunya dan masuk. Memberikan senyuman pada Mba Vin. Penjaga perpus yang sudah lama aku kenal. Keadaan perpus sepi. Hanya ada dua orang yang sedang duduk membaca. Dan kurang dari empat orang yang sedang sibuk memilih buku. Hmm. Perpus bagiku itu basecamp. Aku bisa melakukan apapun yang aku suka disini. Mengintai orang melalui laptopku. Membaca sampai mataku pusing. Mengerjakan PR. Bahkan pernah aku numpang tidur disini. Hehehe. Tenang saja. Mba Vin sudah akrab denganku. Jadi tak ada halangan untuk melakukan apapun di perpusku tercinta ini.
Aku menaruh tas dan laptopku di meja. Dan beranjak berburu buku tentang palmistry. Ilmu yang mempelajari tentang membaca garis tangan. Entah kenapa dibenakku terlintas materi itu. Bukan bermaksud ingin menjadi dukun, peramal atau sebangsanya. Hanya ingin tahu saja. Mataku berputar putar di salah satu rak buku. Sepi. Dilorong rak buku ini sepi. Seperti hanya aku saja. Dan suasananya seperti yang terjadi dimimpiku. Sepi dan sendiri. Mataku menelaah setiap buku dirak itu. Membaca satu per satu judul buku.
Ada derap kaki berjalan kearah lorong rak buku dimana aku berada. Dan ternyata benar. Seorang lelaki yang sepertinya seumuran denganku berjalan dan berhenti di ujung rak buku. Tak dapat kulihat jelas. Aku menoleh hanya untuk satudetik dan kembali melanjutkan mencari buku tentang palmistry. Tapi di detik ke tiga aku mencari, wajahku kembali menoleh dan terperanjat melihat lelaki itu.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...